Cici Metta adalah nama panggilan ku di SMB.Aktif mengajar di SMB . Bermula dari cerita Fefe saat pulang sekolah , “Mi betapa bahagianya anak anak lain ketika menyanyikan lagu lagu rohani di kelas sebelah”. Sedangkan fefe hanya bermain diluar kelas, karena pada saat itu belum ada guru pengajar Agama Buddha di sekolahnya. Untuk itulah kuberanikan diri menulis lagu dan kuajarkan padanya, juga di SMB yang kukunjungi.
Senin, 24 November 2025
Sabtu, 08 November 2025
Menghadapi Mara ( Cerita Interaktif )
Cerita Interaktif: Menghadapi MΔraTujuan: Anak belajar bahwa kebajikan dan keteguhan hati bisa mengalahkan segala godaan dan ketakutan.
---
PembukaanGuru (suara lembut):
“Anak-anak, hari ini kita akan mendengar kisah Petapa Gotama yang duduk di bawah pohon besar di Hutan GayΔ. Ia bertekad kuat:
> ‘Walau hanya kulit, urat, dan tulang yang tersisa, aku tak akan bangkit sebelum menjadi Buddha!’
Tapi... ada makhluk jahat yang tidak suka dengan tekad ini. Namanya siapa?”
Anak-anak:
“MΔraaaa!
”
”Guru:
“Betul! MΔra berteriak dari kediamannya—dengan marah sekali!”
Guru (bersuara keras):
> “Tak akan kubiarkan Siddhattha menjadi Buddha!”
---
MΔra Datang!Guru:
“MΔra naik Gajah besar bernama Girimekhala! 

Ia datang dengan sepuluh pasukan yang menakutkan!
Ayo anak-anak, bagaimana suara pasukan MΔra datang?”
Anak-anak:
“Dummm! Dummm! Dummm! Wuuuussshhh!!”
Guru:
“Seluruh hewan di hutan lari ketakutan. Tapi Petapa Gotama tetap duduk diam, bersila, dan tenang.”
---
Serangan Angin TopanGuru:
“MΔra marah besar! Ia berteriak:
> ‘Aku akan menyingkirkan Gotama dengan angin topan!’
Ayo, kita buat suara angin topan bersama-sama!
Siap? 1… 2… 3…”
Anak-anak:
“Wuuuuuuuuussssssssss!!! 

”


”Guru:
“Namun, angin itu tak mampu menggoyahkan Petapa Gotama sedikit pun. Bahkan jubahnya tidak bergerak!”
Guru dan anak-anak bersama:
> “Beliau tidak takut!” 

---
Serangan Hujan Deras dan Api 
Guru:
“Setelah gagal, MΔra berkata:
> ‘Akan kubuat dia tenggelam!’
Hujan deras pun turun! Ayo, tepuk paha kalian seperti suara hujan!”
Anak-anak:
“Tik tik tik tik tik!” 

Guru:
“Tapi air hujan itu tidak bisa membasahi jubah Petapa Gotama.
Lalu MΔra menyerang dengan hujan batu menyala-nyala!”
Guru menepuk lantai/paha:
“Bumm! Bumm! Bumm!”
Guru:
“Tapi semua batu itu berubah menjadi bunga surgawi 
yang jatuh di kaki Petapa Gotama.”

yang jatuh di kaki Petapa Gotama.”---
Serangan Pasir, Abu, dan LumpurGuru:
“MΔra lalu menebarkan abu panas!”
Anak-anak:
“Ssssss!!!
”
”Guru:
“Tapi abu panas itu berubah menjadi serbuk kayu cendana yang wangi~ 

Lalu datang pasir panas dan lumpur membara…”
Anak-anak:
“Ssshhhhh… blub blub blub!”
Guru:
“Tapi semuanya berubah menjadi minyak wangi dari surga.”
---
Kegelapan MenyelimutiGuru:
“MΔra tak menyerah! Ia membuat kegelapan empat kali lebih pekat dari malam biasa!”
Guru mematikan lampu / berkata:
“Gelap sekaliii… anak-anak, pura-pura tutup mata dan pegang bahu temanmu, ya!”
Guru:
“Tapi tiba-tiba dari tubuh Petapa Gotama muncul cahaya seperti mentari! 

Gelap pun hilang!”
Anak-anak (bersorak):
“Terang!
Terang!
”
Terang!
”---
Pertarungan TerakhirGuru:
“MΔra marah sekali. Ia mengangkat cakram maut dan berteriak…”
> “Siddhattha! Menyingkirlah! Tempat itu milikku!”
Guru (suara Gotama):
> “MΔra, engkau belum memenuhi Sepuluh Sifat Sempurna. Tempat ini bukan milikmu, tapi milikku!”
Guru bertanya:
“Siapa tahu apa Sepuluh Sifat Sempurna itu?”
(anak-anak boleh sebut beberapa: sabar, jujur, tekun, cinta kasih, dsb.)
Guru:
“MΔra melempar cakramnya… tapi cakram itu berubah menjadi bunga payung indah di atas kepala Petapa Gotama! 
”

”---
“Bumi Menjadi Saksiku”Guru:
“MΔra bertanya, ‘Siapa saksimu, Gotama?’
Petapa Gotama dengan tenang menyentuh bumi dan berkata…”
Guru dan anak-anak bersama-sama:
> “Bumi adalah saksiku!”
Guru mengetuk lantai kuat-kuat:
“BUMMMM!!! 
”

”Guru:
“Bumi bergetar! Gajah MΔra berlutut! MΔra dan pasukannya lari ketakutan! Mereka meninggalkan senjata, mahkota, dan jubah!”
Anak-anak:
“Yeaay! Petapa Gotama menang!” 

Guru:
“Petapa Gotama tetap duduk dalam ketenangan, dan malam itu… Ia mencapai Pencerahan dan menjadi Buddha.
”
”---
Penutup dan RefleksiGuru:
“Anak-anak, siapa MΔra yang sebenarnya?”
Anak-anak:
“Rasa takut! Rasa malas! Marah! Iri hati!”
Guru:
“Benar! Jadi kalau kalian takut atau malas, kalian sedang menghadapi MΔra di dalam diri.
Apa yang harus kita lakukan?”
Anak-anak:
“Tenang dan sadar seperti Buddha!” 

Guru menutup dengan:
> “Aku berani.
Aku tenang.
Aku bisa mengalahkan MΔra di hatiku.”
Langganan:
Postingan (Atom)












